Kapan Harus Lakukan Self-Screening Fertilitas?
Infertilitas dapat terjadi pada siapa saja, namun faktor risiko dan gejala yang sering muncul bisa memberi sinyal awal. Untuk wanita, tanda-tanda seperti siklus menstruasi tidak konsisten atau anorgasmia (kurangnya orgasme) bisa menjadi pertanyaan. Pada pria, kadar hormon testosteron rendah atau sperma yang kurang dapat menunjukkan masalah kesuburan.
Faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan termasuk usia, gaya hidup aktif seperti merokok dan berat badan, serta riwayat penyakit kronis. Untuk menjaga kesehatan reproduksi, cek self-screening kehamilan bisa dilakukan setiap 2-3 tahun untuk wanita yang belum menikah atau baru beberapa tahun menikah. Untuk pasangan usia subur, interval pemeriksaan dapat diturunkan ke setahun.
Pada ASHA IVF Indonesia, dokter akan membantu mengidentifikasi faktor risiko dan memberikan saran terbaik untuk rencana hamil. Self-screening ini bukanlah pengganti konsultasi medis, tetapi dapat menjadi langkah awal dalam menentukan waktu yang tepat untuk mencoba kehamilan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa tanda-tanda yang harus diwaspadai?
Siklus menstruasi tidak konsisten atau anorgasmia adalah tanda utama bagi wanita.
Bagaimana cara pemeriksaan pada pasangan usia subur?
Interval pemeriksaan dapat diturunkan ke setahun.
Apakah ada efek dari gaya hidup aktif terhadap kesuburan?
Ya, merokok dan berat badan tinggi bisa mempengaruhi kesuburan.
Waktu ideal untuk melakukan self-screening bagi pasangan usia 35 tahun ke atas?
Interval pemeriksaan dapat diturunkan ke setahun.
Bagaimana cara membaca hasil dari self-screening ini?
Dokter akan memberikan analisis dan saran terbaik.
Referensi
- WHO (World Health Organization), Guidelines for Reproductive and Sexual Health Care, 2017
- ASRM (American Society for Reproductive Medicine), Position Statement on Screening Tests for Female Infertility, 2018
Ingin tahu skor fertilitas Anda?
Skrining online 10 pertanyaan, gratis, hasil instan via WhatsApp.
Mulai Cek Fertilitas